Empat purnama telah mengangkangi waktu
Seolah telah merasa lelah ia menunggu
Satu langkah gagah seorang kesatria lumpuh
Untuk menggenggam bayangan dalam pikiran semu
Ingatkah engkau empat purnama lalu
Di saat engkau berselimut emas menyilaukan
Berhias arang menyerang melintang curam
Ku di sana menatap cahaya mata mu tanpa lelah
Meski ku harus menyimpang dari arah tetapan
Ingatkah engkau empat purnama lalu
Saat waktu kembali mencoba berspekulasi
Memberi kesempatan meski sungguh sesaat
Namun kulewatkan dan hilang dalam satu kejap
Dari sana hingga empat purnama kini
Bayangan mu selalui menghantui pikiran
Lembaran kembarmu selalu menyakitkan perasaan
Dan jauh semerbak mu selalu merusak angan
Bukan cantik mu yang kubayangkan
Bukan indahmu yang menarik hati
Bukan senyummu yang menjadi dambaan
Namun entah kenapa hati ini merasakan sesuatu
Meski empat purnama telah berlalu
Pernah ku mencoba mengirimkan merpati tengah laut
Namun kauhunus dengan pedang keapatisan mu, keangkuhanmu
Lalu ku coba kirim sang matahari untuk mengwasi mu
Namun ia tak mau menyimpang dari jalannya
Terlalu lelah ku untuk meneruskan perjuangan
Kelumpuhan ku sudah kulminasi
Mungkin sebentar lagi hati kan menjadi beku
Dan purnama ke empat ini yang menjadi saksi
Dari kisah seorang kesatria dalam perang asmara.
Cinta takkan pernah menemui titik awal dan akhir. Sejak kita dilahirkan, cinta sudah tumbuh dalm hati seorang manusia. Takkan lebih manusiawi kecuali seorang manusia jatuh cinta.
Love will not meet the ending and beginning point. Starting we were born, love had grew up in the human heart. There is not human if they dont feel falling love.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar